Jumat, 30 November 2012

Kiat Lulus Uji Kompetensi Guru



Kiat Lulus Uji Kompetensi Guru

       Uji Kompetensi Guru (UKG) telah digelar. UKG bagi guru yang sudah bersertifikat dilaksanakan tahun 2012 dan bagi guru yang belum bersertifikat dilaksanakan tahun 2013. Banyak pihak yang menolak UKG. Biarlah para pemimpin kita saling beradu argumen untuk mencari solusi terbaik. Kita sebagai guru sebaiknya tetap siap melaksanakan program pemerintah yang bertujuan memajukan pendidikan ini.
        Dalam buku pedoman UKG dijelaskan bahwa Uji Kompetensi Guru (UKG) dilakukan untuk pemetaan kompetensi, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dan sebagai entry point  Penilaian Kinerja Guru (PKG). Program pengembangan keprofesian berkelanjutan dan penilaian kinerja guru wajib dilakukan setiap tahunnya sebagai persyaratan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru. Melihat peran strategis UKG, kita perlu mempersiapkan diri agar lulus UKG.
        Batas kelulusan UKG  adalah nilai 70. Batas nilai ini memang termasuk tinggi dibandingkan passing grade Uji Kompetensi Awal (UKA) untuk dapat mengikuti PLPG dalam proses sertifikasi guru adalah nilai 30,0.
        Penulis merasa bersyukur karena telah mengikuti UKG  dan mendapat nilai di atas batas nilai kelulusan (> 70). Beberapa rekan guru memberi ucapan selamat,   bahkan ada yang minta syukuran. Terimakasih pada rekan-rekan atas ucapan selamatnya sebagai wujud ikut senang atas keberhasilan ini!
        Rata-rata nilai UKG sangat rendah. Rata-rata  nasional nilai UKG gelombang pertama untuk  guru kelas SD adalah 40,87. Di Pulau Jawa, di tiap kabupaten/kota hanya beberapa kecamatan terdapat guru (SD) yang lulus UKG.Di luar Jawa, beberapa provinsi tidak terdapat satupun guru (SD) yang lulus UKG. Berdasar kenyataan tersebut, penulis ingin berbagi pengalaman dalam mengikuti UKG.  Sesuai dengan pengalaman yang telah dialami penulis, uraian berikut adalah tentang UKG untuk guru kelas SD  yang dilaksanakan secara online. Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi rekan guru yang belum mengikuti UKG!
        Uji kompetensi guru dilaksanakan dengan dua cara yaitu sistem online dan sistem manual (paper pencil test). Pelaksanaan UKG pada umumnya menggunakan sistem online. Sistem manual hanya bagi kabupaten/kota yang tidak memiliki perangkat yang memenuhi persyaratan sistem online.
      Uji kompetensi guru  online dilaksanakan di tempat uji kompetensi guru yang telah ditetapkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sesuai dengan persyaratan dan telah diverifikasi oleh LPMP. Penulis melaksanakan UKG online di SPMN 7 Kebumen.
      Tempat Uji Kompetensi  (TUK) berupa laboratoriun komputer.  Terdapat 20 unit komputer peserta yang ditata seperti laboratorium komputer pada umumnya. Satu komputer operator yang dilengkapi proyektor . selain itu, terdapat  server yang terkoneksi dalam jaringan LAN (pakai kabel, bukan WiFi).
        Petugas yang memfasilitasi pelaksanaan UKG di SMPN 7 Kebumen ada 3 orang. Sebelum UKG dimulai, petugas memberikan informasi tentang apa yang harus kita kerjakan dan apa yang tidak boleh. Kita dapat menanyakan bahkan minta bantuan petugas  dalam melakukan login dan mengisi perbaikan data individu serta  masalah teknis lainnya. Tapi ingat, kita tidak boleh menanyakan jawaban atau hal lain berkaitan dengan  soal lho! Kalau hal itu  ditanyakan paling  cuma dikasih senyum  manis.
        Soal UKG ternyata gampang-gampang susah. Soal mudah karena yang ditanyakan sekitar konsep dasar. Soal sulit ketika soal menuntut kita menganalisa berdasarkan pemahaman konsep. Ada pula soal yang membosankan karena menggunakan wacana sangat panjang dan meminta kita menganalisa jenis wacana tersebut. Soal apa itu? Ya,  soal bahasa indonesia.
        Soal UKG tidak sesuai kisi-kisi. Lebih tepatnya: beberapa soal tidak sesuai kisi-kisi dan beberapa kisi-kisi tidak ada soalnya. Soal UKG yang tidak sesuai kisi-kisi ini sebenarnya lebih mudah daripada sesuai kisi-kisi. Kisi-kisi yang dirasa sulit bahkan mencari sumbernya materinya-pun sulit  misalnya “Mengidentifikasi batas-batas kepulauan yang rawan dicaplok oleh negara tetangga dan cara menanggulanginya”. Soal yang keluar yang diperkirakan untuk kisi-kisi ini adalah tentang selat di Indonesia. Lebih mudah kan?
        Soal UKG pada dasarnya menanyakan sekitar apa yang kita laksanakan sehari-hari dalam melaksanakan tugas sesuai jenis profesi kita. Dapat dikatakan bahwa belajar untuk mengahadapi UKG sebearnya sudah kita lakukan setiap hari melalui kegiatan mengajar.  Karena profesi guru SD adalah guru kelas, soal UKG meliputi kompetensi pedagogik dan profesional untuk guru kelas 1 s.d. kelas 6. Guru yang pernah mengalami mengajar di setiap jenjang kelas tersebut, tentunya memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar secara tidak langsung dalam menghadapi UKG.  Jika setiap mengajar kita selalu memahami konsep materi ajar, metode pembelajaran, dan teknik penilaiannya, insya Allah kita dapat mengerjakan soal UKG dengan baik.
         Hal yang bikin dongkol, ternyata ada beberapa soal yang salah. Beberapa rekan yang lulus UKG juga mengatakan hal yang sama. Kesalahan soal jelas terlihat pada materi matematika karena matematika ilmu pasti sehingga mudah ditebak letak kesalahannya. Kesalahan meliputi: salah ketik, tidak ada jawaban yang benar, dan soal yang tidak konsisten antara yang diketahui dan yang ditanyakan. Kesalahan soal kita maklumi saja, soal Ujian Nasional (UN) tahun lalu saja ada yang salah apalagi soal UKG yang  jumlahnya banyak.
        Berdasar uraian di atas dan pengalaman mengikuti UKG, penulis mempunyai beberapa kiat untuk lulus UKG:
  1. Pelajari hal yang berhubungan dengan kompetensi pedagogik dan profesional sebagai guru kelas I s.d. VI. Sebaiknya kita pelajari dari kelas I s.d. VI. Kalau tidak mungkin, cukup dari kelas I s.d. VI. Soal UKG yang menyangkut kelas I adalah materi pedagogik. Materi pedagogik dan profesional untuk kelas IV s.d. VI. Belajar yang tepat sebenarnya dilakukan saat kita melaksanakan tugas PBM mulai dari merencanakan sampai mengevaluasi. Setiap kali kita mengajar, pelajari dengan cermat semua konsep materi ajar, strategi, metode, media, dan teknik penilaiannya! Dengan demikian tidak perlu belajar khusus untuk menghadapi UKG. Belajar secara khusus untuk menghadapi UKG dirasa tidak efektif. Belajar untuk memahami konsep itu butuh proses mulai dari tahu, analisis, sintesis, evaluasi, sampai kreatifitas. Kuliah S1 PGSD selama 4 tahun saja belum tentu menguasai semua konsep dasar materi pelajaran SD berikut MMP-nya, apalagi  belajar dengan waktu beberapa minggu. Seandainya kita ingin sekedar mengingat kembali, sebaiknya pelajari materi dari kelas I s.d. VI. Kalau tidak mungkin, cukup dari kelas IV s.d. VI. Soal UKG yang menyangkut kelas I adalah materi pedagogik. Materi pedagogik dan profesional untuk kelas IV s.d. VI.
  2. Jangan hanya belajar berdasar  kisi-kisi soal. Soal UKG memuat materi yang seharusnya dipahami guru sesuai profesinya,  tidak sekedar apa yang tercantum dalam kisi-kisi
  3. Persiapan fisik dan mental. Mengingat cakupan materi soal UKG sangat luas, sebaiknya malam hari sebelum UKG kita istirahat yang cukup. Jangan belajar menjelang ujian! Belajar menjelang ujian justru membuat otak kita lelah sehingga kemampuan mengingat dan bernalar menjadi berkurang.
  4. Konsentrasi saat mengerjakan soal. Kita tidak perlu menanyakan jawaban pada rekan sebelah. Menanyakan jawaban justru membuat kita ragu, dan mungkin juga rekan kita asal menjawab karena sedang sibuk sendiri.
  5. Atur waktu dengan baik. Usahakan membaca soal dan berfikir cepat! Tentukan jawaban dengan cepat untuk soal yang mudah  sehingga tersedia waktu yang cukup untuk soal yang perlu  menghitung atau menggunakan wacana panjang. Jawablah semua soal walupun ragu! Tulis nomor soal yang masih ragu sehingga kalau masih ada waktu dapat kita cek kembali.
  6. Jawablah semua soal. Jawablah semua soal walaupun soal salah! Soal yang salah dapat kita perkirakan kemungkinan letak kesalahannya. 
  7. Doa. Kita hanya bisa berusaha, yang menentukan hanyalah Tuhan. Doa membuat kita tenang sehingga dapat mengerjakan soal dengan konsentrasi.
 Sumber
BPSDMPK-PMP. 2012. Pedoman Uji kompetensi Guru (UKG). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
________________ . 2012. Diklat Pasca UKA. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
________________ . 2012. Materi TOT Uji kompetensi Guru (UKG) Online. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
LPMP-Jawa Tengah. 2012. Uji Kompetensi Guru (UKG) Online. Semarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Rabu, 02 Mei 2012

Pemecahan Masalah Matematika Menggunakan Gambar


Pemecahan Masalah Matematika Menggunakan Gambar
           Mengajar materi pemecahan masalah Matematika pada anak usia SD memang susah karena taraf perkembangan berfikirnya masih semi konkret (Piaget) atau tahap gambar bayangan /iconic (Bruner). Sebagai pendidik, kita berupaya agar siswa dapat menguasai materi dengan baik. Salah satu caranya dengan mengolah soal menjadi gambar. Mengapa dengan gambar dan tidak menggunakan rumus? Karena taraf perkembangan siswa yang masih semi konkret sehingga belum mampu memahami simbol-simbol abstrak. Gambar dimaksudkan untuk memanipulasi simbol-simbol abstrak menjadi semi konkrit. Berikut adalah contoh menyelasaikan masalah maematika mengunakan gambar.

Soal:  Harga dua buah penggaris dan tiga buah pulpen Rp13.000,00. Harga tiga buah penggaris dan dua buah pulpen   Rp12.000,00. Berapa harga masing-masing sebuah?
 
Jawaban dengan ilustrasi gambar:

Apa yang diketahui dalam soal kita ilustrasikan dalam gambar:


  
Gambar kita rubah posisinya menjadi seperti gambar di bawah ini:

Kita kelompokkan dan diberi tanda sehingga siswa memahami bahwa harga 1 buah penggaris dan 1 buah pulpen adalah Rp 5.000,00



Setelah diketahui harga satu pasang ( 1 penggaris dan 1 pulpen ) adalah Rp 5.000,00  kita dapat menentukan harga masing-masing

Menentukan harga 1 buah pulpen
Diketahui bahwa harga dua buah penggaris dan tiga buah pulpen harganya Rp13.000,00
Dapat digambarkan sebagai berikut:



Gambar tersebut kita kelompokkan berdasarkan pemahaman sebelumnya:



Anak-anak sebaiknya diajak untuk menyimpulkan sendiri bagaimana cara menentukan harga 1 buah pulpen berdasarkan gambar di atas.

Menentukan harga 1 buah penggaris
Diketahui bahwa harga tiga buah penggaris dan dua buah pulpen   Rp11.000,00
Dapat digambarkan sebagai berikut:



Gambar tersebut kita kelompokkan berdasarkan pemahaman sebelumnya:



         Anak-anak kembali diajak untuk menyimpulkan sendiri bagaimana cara menentukan harga 1 buah penggaris berdasarkan gambar di atas.
         Dari uraian di atas telah dapat dipahami dan siswa dapat menentukan bahwa harga 1 buah pulpen Rp 3.000,00 dan harga 1 buah penggris Rp 2.000,00
         Apakah langkah ini sudah selesai? Kita harus membiasakan siswa agar setiap mengerjakan soal pemecahan masalah perlu memeriksa kembali sehingga yakin jawabannya benar. Ada  4 tahap pokok atau penting dalam memecahkan masalah menurut George Polya (1945) dalam bukunya  berjudul “How to Solve It”.  Keempat langkah tersebut adalah:
  1. Memahami soal/masalah - selengkap mungkin.
  2. Memilih rencana penyelesaian
  3. Menerapkan rencana tadi
  4. Memeriksa jawaban
        Apakah jawaban sudah benar, lengkap, jelas dan argumentative (beralasan). Untuk dapat melakukan  tahap 4 dengan baik, maka perlu latihan mengenai:
  1. memeriksa penyelesaian/jawaban (mengetes atau mengujicoba jawaban),
  2. memeriksa apakah jawaban yang diperolah masuk akal,
  3. memeriksa pekerjaan, adakah yang perhitungan atau analisis yang salah,
  4. memeriksa pekerjaan, adakah yang kurang lengkap atau kurang jelas.
          (George Polya  dalam Sumardyono)

          Siswa seringkali terjebak pada tahap 3 saja, sering melupakan tahap 4 dan mengabaikan tahap 1 dan tahap 2.

Untuk memeriksa kembali jawaban, kita cocokkan jawan dengan soal:

Apakah harga 2 buah penggaris dan tiga buah pulpen Rp13.000,00?


Apakah harga tiga buah penggaris dan dua buah pulpen   Rp12.000,00?



         Setelah diperiksa kembali dan didapatkan jawaban benar, baru dinyatakan bahwa harga sebuah penggaris Rp 2.000,00 dan harga sebuah pulpen Rp 3.000,00

       Soal pemecahan masalah matematika terdiri dari berbagai jenis variasi berkaitan dengan tingkat kesulitan, jenis operasi hitung dalam satu soal dan kombinasinya. Upaya agar siswa dapat mengerjakan soal pemecahan masalah matematika dengan benar tentu harus banyak berlatih dengan berbagai soal.  Guru harus kraeatif menyusun soal dalam berbagai kombinasi. Setelah siswa memahami pemecahan masalah menggunakan soal dan penjelasan di atas, siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal lain yang variasi/kombinasinya berbeda tetapi masih sejenis.

Contoh soal:
Harga dua buah jeruk dan tiga buah apel Rp 23.000,00. Harga 1 buah jeruk dan 2 buah apel Rp 14.000,00.  Berapa harga masing-masing per-buah?

       Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para guru SD pada khususnya dan para pendidik pada umumnya.


                               
Pustaka
Suryabrata sumardi.2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sumardyono. 2008. Tahapan dan Strategi Memecahkan Masalah Matematika. Yogyakarta: PPPPTK



Penulis
Tejo Wahyono
Guru SDN 1 Kemujan
Diklat guru matematika yang pernah diikuti: 
  • TOT Guru Pemandu Matematika (Seleksi LPMP Jateng)
  • Diklat Guru Pemandu Matematika Jenjang Dasar Tingkat Nasional  (P4TK Matematika)
  • Diklat Guru Pemandu Matematika Jenjang Lanjut Tingkat Nasional  (P4TK Matematika)

Sabtu, 22 Januari 2011

ADA ANAK GADIS BERTANYA PADA IBUNYA

ADA ANAK GADIS BERTANYA PADA IBUNYA


Seorang anak gadis berangkat remaja
Bertanya pada ibundanya
“Ibu, terangkan pada saya
Tentang hakekat seorang wanita.”

Sang ibu terkejut mendengar anaknya bertanya
Tentang hal yang tidak ringan bobotnya
Namun sangat penting bagi ananda yang berangkat dewasa
Dengan perlahan menjawablah sang ibunda
Begini kata-katanya:

“Pertanyaanmu tidak ringan jawabannya
Tapi biarlah mama jawab secara sederhana
Perempuan itu dicipta halus keadannya
Lembut tutur sapanya
Sopan budi pekertinya
Rajin menggali ilmu, tekun dalam bekerja
Perilaku setara dalam apa pun karya
Lincah dan dinamis geraknya
Dia tidak minder karena jenis kelaminnya
Bahkan tak akan tertandingi dia
Dalam keikhlasan pengorbanannya
Melahirkan anak menyambung nyawa
Membesarkan anak habis waktunya
Jika dia berumah-tangga
Dia patner setia suaminya
Sabar mendidik anak-anaknya
Kalau dia bekerja
Dia pandai membagi waktunya
Ramah dan erat dengan mertua, ipar dan keluarga
Serta baik hubungan dengan tetangga
Dan ikut membantu masyarakatnya.”
Demikian jawab ibunya

Kening sang gadis remaja tampak ada kerutannya
Sinar tak puas terbayang pada matanya
Terdengar berikut ini kalimatnya:

“Ah, mama
Yang baru mama katakan ini kok indah sekali gambarannya
Dalam kenyataan lain lagi rasanya.”

Menjawab lagi ibunya:
“Memang nak,
Yang mama sebutkan tadi adalah bentuk idealnya
Yang tidak mudah mencapainya
Karena masalah ini memang tidak sederhana.”

“Mama, mama
Mama bilang tadi
Wanita harus lembut dalam bertutur-sapa
Tapi dalam kenyataannya, misalnya
Banyak perempuan judes dan suka mengomel saja
Suka bergunjing bergosip memperkatakan sesama
Misalnya tante, adik mama itu, yang di Surabaya
Hari ini ngomongnya begini di depan kita
Minggu depan ngomongnya begitu-begtu di belakang kita....”

“Ya, ya, nak, ya
Itulah salah satu kelemahan kita wanita
Mungkin malahan kelemahan kita yang utama
Sukar menahan kata-kata tak berguna
Menjaga perasaan orang lain sering lupa
Bagi mama sendiri, inilah cobaan sangat beratnya
Kalau sudah bertemu sesama teman arisan atau kawan dulu di SMA
Kami bertanding siapa yang punya lidah paling berbisa
Yang paling top adalah analisa skandal demi skandal
Kemudian apa saja yang berkaitan dengan aib keluarga.”

Sang anak tiba-tiba memotong kata:
“Mah, mama,
Jadi mama ikut-ikutan begitu juga
Mama bergunjing bergosip pula
Mama mengunyah-ngunyah daging saudara sendiri juga?”

Dengan malu sang ibu menjawab anaknya:
“Anakku sayang,
Mama tadi sudah katakan
Yang paling berat kelemahan seorang perempuan
Adalah menjaga lidahnya, menjaga perkataan
Ketika berkumpul-kumpul, apakah pengajian apalagi arisan
Sering kita, kaum perempuan ini tak tahan pameran harta
Memperagakan berlian di leher dan di pergelangan tangan
Menyebut merek mobil dan perjalanan liburan
Bercerita tentang anak-anak yang sekolah di mancanegara
Itu ‘kan menusuk perasaan kawan-kawan yang tak berpunya
Tapi beginilah anakku sayang
Lebih baik sekarang mama berterus-terang
Kamu lebih baik tahu sejak sekarang
Kamu akan jadi dewasa, kamu akhirnya akan tahu juga.”

“Mah, mama
Jadi dalam hal ini
Fungsi sholat atau sembahyang itu dimana
Yang katanya mencegah hal yang keji dan munkar itu
Mama rajin pergi ke pengajian,
Mama umroh, mama hajah, mama sholat
Tapi sholat ternyata tidak mampu mencegah mama
Bergunjing dan bergosip
Itu ‘kan sama dengan mengunyah-ngunyah daging saudara sendiri
Bagaimana itu, mah, bagaimana?”

“Anakku sayang,
Mama koreksi sedikit ucapanmu tadi itu tentang fungsi sholat
Jangan katakan
Shalat ternyata tidak mampu mencegah mama bergunjing dan bergosip
Jangan katakan begitu
Yang tepat adalah
Sholat mama yang tidak mampu itu
Jadi mama belum betul melaksanakan sholat mama itu
Jadi mama belum khusyu’ melaksanakan sholat mama itu
Kalau mama sudah sungguh-sungguh betul,
Kalau mama sudah sungguh-sungguh khusyu,
Pasti mama akan tutup mulut ketika kawan-kawan mama bergosip
Pasti mama akan tutup telinga ketika kawan-kawan mama bergunjing
Tidak tertarik lagi mengikuti kebiasaan tidak terpuji itu.”

“Mah, mama
Terimakasih atas keterusterangan mama
Inilah nasihat yang sungguh sangat berharga
Mah, saya akan selalu mengingatnya
Sekarang saya sudah mendapat bekal amat mahalnya
Mama sudah menerangkan tentang hakekat seorang wanita
Tentang masalah apa yang kelak akan saya hadapi
Sebagai seorang perempuan ketika nanti mendewasa
Dengan kekuatan serta kelemahannya
Dan keterusterangan mama
Sangat mengharukan saya
Teri makasih mah, terima kasih mama.”

Anak gadis itu kemudian memeluk mamanya
Mata mamanya tampak basah, merah warnanya.


Taufik Ismail

Sabtu, 25 September 2010

Menghadiri Acara Pemberian Hadiah dan Penghargaan Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010

    Pesawat Batavia mengantarku dari Adisucipto menuju Cengkareng. Perjalanan yang menyenangkan karena kata seorang rekan  yang pernah jadi pemenang tahun lalu ” Kalau sudah dapat undangan pasti jadi pemenang”. Kata-kata itu membuat saya merasa percaya diri dan enjoy tanpa beban. Yang dibayangkan hanya ”Saya datang ke Jakarta untuk merayakan kemenangan, mendapat penghargaan, dan uang setara tunjangan profesiku (sertifikasi) selama setahun. 
       Taxi “Blue Bird” mengantarku dari Cengkareng ke lobi Hotel Oasis Amir.  Di lobi hotel, saya diterima oleh panitia dari pusbuk. Setelah menyerahkan syarat-syarat administrasi dan mendapat kunci kamar semua peserta diperbolehkan istirahat. 
        Kegiatan hari pertama adalah wawancara dengan dewan juri. Setiap peserta diwawancarai antara satu sampai dua jam. Tujuan wawancara adalah untuk membuktikan keaslian karya. Hal ini saya rasakan dari pertanyaan-pertanyaan yang berkesan mengejar dan tatapan mata yang mengajak beradu. 
       Pihak panitia mengumumkan bahwa pengumuman pemenang dilaksanakan besok, karena diskusi dewan juri sangat alot. Saya tidak punya pikiran lain-lain, bayangan saya besok semua peserta akan dinyatakan sebagai pemenang.  Ternyata yang saya pikirkan beda dengan pikiran rekan yang lain, ada yang kuatir dieliminasi. Informasi ini saya dengar dari rekan yang sempat mengucapkan “Ini pasti ada apa-apa (ada yang dieliminasi) kalau tidak, pengumuman tentu dilaksanakan sesuai jadwal malam ini”. Masuk akal juga pemikirannya, kalau diumumkan malam ini peserta yang dieliminasi tentu kacau dan ingin pulang malam ini juga. Padahal beli tiket pesawat kan tidak seperti beli tiket bus “omprengan”.  Ketegangan nampak dari belum banyaknya canda tawa dan beberapa peserta tampak lesu.
 
        Walaupun ada rekan yang khawatir dieliminasi, saya lebih percaya pada kata-kata seorang rekan yang pernah jadi pemenang tahun lalu ” Kalau sudah dapat undangan pasti jadi pemenang”.  Malam itu saya tetap enjoy, kapan lagi dapat menikmati fasilitas kamar dengan tarif Rp 850.000,00 per-hari. Sambil minum kopi, duduk di dekat jendela kamar lantai 14 menikmati indahnya malam di pusat kota Jakarta. Kerlap-kerlip lampu sangat mempesona. 
        Pengumuman pemenang dibacakan pada hari kedua oleh ketua dewan juri. Ternyata dugaanku meleset. Ada tiga orang yang dieliminasi. Mereka terpaksa diperbolehkan pulang. Memang kasihan, tapi itu sudah jadi keputusan dewan juri. Dewan juri memegang prinsip mengedepankan mutu dan keaslian karya. 
     Para pemenang mengikuti acara hari kedua yaitu peningkatan wawasan dan audensi dengan menteri pendidikan nasional. Peningkatan wawasan dlaksanakan dengan wisata ke museum Purna Bhakti, TMII, dan menyaksikan Film di Keong Mas. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara audiensi dengan menteri diterima langsung oleh bapak menteri. Tapi tahun ini adalah tahun pertama ada jabatan wakil menteri, sehingga kami deterima oleh wakil meteri pendidikan nasional Bapak Prof.dr. Fasli Jalal. P.HD. di ruang tamu menteri pendidikan nasional.
        Bapak wakil menteri ternyata gemar membaca. Beliau tertarik dengan novel “Negeri 5 Menara” yang kaya pesan moral dengan latar lingkungan pondok pesantren. Beliau memberikan hadiah buku “Negeri 5 Menara” kepada semua pemenang sayembara yang dibeli dengan uang gajinya sendiri. Tidak hanya itu beliau juga mengundang pengarangnya “Bapak Ahmad Fuadi” untuk mengisi kegiatan work shop pada hari berikutnya.
 
     Kegiatan hari ketiga adalah workshop dan pengumuman pemenang di auditoriun TVRI. Pembicara work shop adalah Gol A Gong dan Ahmad Fuadi. Pengumuman pemenang melalui siaran langsung di auditoriun TVRI dilaksanakan pukul 14.00 s.d. 16.00 wib.  
      Malam harinya adalah acara pesta kemenangan, perpisahan, dan pembagian hadiah. Tak perlu saya tuliskan nominalnya ya! Ya, seperti dalam pengumuman sayembara. Masih ada beberapa hadiah tambahan berupa sebuah travel bag besar, kamera digital, dan buku, kamus, novel, puisi yang jumlahnya banyak dan membuat travel bag itu penuh dan berat. Karena banyak dan beratnya hadiah tambahan, seorang rekan pemenang (dosen ISI Yogyakarta) sempat kebingungan bagaimana membawanya. Ya, karena bagasi pesawat yang dipesannya hanya 20 Kg. 
       Sebenarnya saya juga ingin pulang naik pesawat lagi karena anggaran uang transport dari pusbuk adalah pesawat. Tapi, ada seorang rekan (dosen UMP Purwokerto) mengajak pulang bersama. Purwokerto kan tidak ada bandara. Akhirnya saya pulang naik kereta exekutive membawa dua travel bag besar dan kenangan indah. 
      Sengaja saya tuliskan hadiah dan kegiatan yang menyenangkan agar rekan-rekan tertarik dan termotivasi untuk mengikuti sayembara ini. Kalau saya bisa, tentu rekan-rekan lebih bisa. Mari kita berjuang untuk menjadi pemenang sayembara di tahun depan. Saya tidak merasa rekan-rekan sebagai saingan karena ada beberapa kategori jenis naskah lomba yang berbeda. Semoga dengan semakin banyaknya peserta yang mengirimkan naskah, pemerintah akan meningkatkan hadiahnya! Amin!

Jumat, 06 Agustus 2010

Kerja Keras tuk Jadi Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010

          Menjadi pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tingkat Nasional”membuat beberapa rekan mengira saya pandai menulis. Sempat tidak percaya ketika terima telepon seorang rekan yang meminta saya menjadi pembicara dalam forum ilmiah. Permintaan itu dengan sangat terpaksa saya tolak, bukannya tidak mau tapi mengingat jarak yang tidak mungkin ditempuh tanpa meninggalkan tugas mengajar. Sekali lagi, maaf sobat! Tawaran itu sebenarnya merupakan kesempatan saya mendapatkan pengalaman baru, tapi saat ini saya berusaha untuk tidak meninggalkan tugas mengajar karena sudah terlalu sering meninggalkannya. Barangkali lain waktu kalau senggang bisa dibicarakan lagi.
           Tahun 2008/2009 selama setahun penuh saya bebas tugas dinas karena tugas belajar. Bulan Oktober 2009 tugas belajar selesai dan kembali mengajar, tapi ternyata saya masih sering meninggalkannya untuk kegiatan lomba, kepanitian, dan TOT. Awal tahun ajaran baru inipun saya meninggalkan anak didik karena diklat guru pemandu matematika di P4TK Yogyakarta selama dua minggu. Diklat ini membuat saya mendapat tugas tambahan tuk pengimbasan pada guru dan kepala sekolah se-kecamatan. Ini merupakan tugas berat tuk beberapa bulan kedepan. Kegiatan-kegiatan itu sebenarnya juga merupakan tugas sebagai abdi negara, tapi yang saya pikirkan saat ini ”Bagaimana anak didikku kelas 6 dapat belajar dengan baik”.
           Berbagi pengalaman dengan sahabat tentu sangat menyenangkan, tetapi saya minta maaf tidak dapat memberikan soft copy karya saya. Hak cipta naskah pemenang sayembara ada pada pusbuk dan akan ditawarkan pada penerbit sehingga saya tidak berani menyebarluaskan soft copynya.
Beberapa rekan juga ada yang menanyakan cara membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tentu dengan senang hati menjawab semampu saya. Sekali lagi minta maaf soft copy PTK saya yang masuk dalam finalis LKG tingkat nasional tidak saya berikan. Tentu tujuannya baik lho! Melihat karya orang lain membuat kita terpaku pada model karya tersebut, padahal setiap orang punya ciri khas dalam mengungkapkan ide. Selain itu tentu saja mematikan kreatifitas, karena hal yang diutamakan dalam PTK adalah inovasi. Kalau saya bisa, rekan-rekan pasti lebih bisa!
           Ada kabar burung entah benar atau tidak tentang adanya orang yang membuatkan karya ilmiah sebagai tugas akhir kuliah. Kalau hal ini terjadi sungguh sayang kesempatan belajar disia-siakan. Kalau boleh saya sarankan, rekan-rekan yang pandai membuat karya ilmiah agar berkenan mengajari tapi tidak membuatkan.
          Rekan-rekan dan sobat yang lama tak berjumpa mungkin ingin mendengar cerita bagaimana orang bisaa seperti saya dapat menjadi pemenang sayembara tingkat nasional. Atau mungkin ingin mencoba mengikuti sayembara tahun depan? Dengan senang hati saya ceritakan semua pengalaman ini.
          Saya guru SD yang baru keluar dari tempurung. Pandangan ke dunia luar mulai terbuka ketika tugas belajar sertifikasi guru jalur pendidikan (bebas tugas dinas) selama 1 tahun di USD Jogyakarta tahun 2008/2009. Disana pertama kali saya kenal computer dan internet. Gaptek, ya itu tahun lalu. Sekarang sudah bisa computer bahkan punya nomor email dan facebook. Keren kan!
           PPS (Peserta Program Sertifikasi) berjumlah 27 orang dari 3 provinsi (Jateng, Jatim, dan DIY). Diantara mereka ada yang pernah menjadi finalis LKG tingkat nasional. Sebelumnya kalau melihat pengumuman lomba apalagi tingkat nasional, tak pernah saya perhatikan karena saya pikir itu di luar kemampuan saya. Pikiran itu berubah: kalau rekan PPS ada yang bisa, mungkin dengan kerja keras saya juga bisa.
           Saya coba buat dan kirim PTK untuk mengikuti LKG tahun 2009. Suatu hal yang awalnya tidak percaya ketika datang surat panggilan sebagai finalis LKG. Bagaimana tidak, ini adalak PTK saya yang pertama terpilih sebagai finalis dari hampir seribu pengirim. Pengalaman pertama mengikuti lomba tingkat nasional sangat menyenangkan. Bertemu dan mengenal rekan guru dari berbagai provinsi yang pada umumnya memiliki prestasi yang membanggakan. Pengalaman yang paling berkesan ketika mengikuti acara puncak HUT PGRI di senayan karena dihadiri presiden SBY dan tentu saja dengan para menteri. Kesempatan ini kami manfaatka untuk berjabat tangan dan berfoto bersama.
           Pulang dari Jakarta (mengikuti LKG) saya langsung ke “New York”, istilah keren yang bisa kami sebut untuk Newyokarto Hadiningrat. Tujuan utama adalah mengambil sertifikat pendidik di USD. Di Newyorkarto bertemu rekan-rekan PPS, dari mereka saya mendengar adanya Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010.
           Saya tergiur nominal hadiah, terbayang lembaran merah. Walau kemampuan menulis rendah, dan tahu batas akhir pengiriman tinggal dua bulan setengah, saya coba menulis dengan berbekal sedikit pengetahuan tata tulis karya ilmiah.
           Waktu dua bulan terlalu singkat untuk penulis pemula, apalagi kegiatan saya selain mengajar juga menyusun soal dan menjadi juri lomba-lomba tingkat kecamatan. Capek, tentu saja apalagi saya baru saja pulang dari Jakarta sebagai Finalis LKG. Menulis naskah saya lakukan malam hari sehingga sering lembur sampai dini hari.
           Menjelang akhir batas pengiriman saya macet ide buntu. Berharap batas akhir pengumpulan naskah diperpanjang seperti tahun sebelumnya, saya kirim email ke bangnas (bangnas_pusbuk@yahoo.com) bahkan ke Om Jay (Wijaya Kusumah) dengan menanggapi blognya. Jawaban bangnas dan Om Jay sama :”Batas akhir pengumpulan naskah tetap 1 Maret 2010”. Terimakasihbangnas dan Om Jay yang telah menjawab pertanyaan dan berkenan mengunjungi blog saya yang free dan asal jadi.
           Mungkin doa saya terkabul, tiba-tiba ide muncul lagi. Kerja keras belanjut. Puncak kerja keras pada malam 1 Maret, saya tidak tidur karena catride Printer HP DJ 2500 sering ngambek. Entah berapa gelas air panas kubuang setelah hitam pekat diciumi head catrideku yang bandel.
          Tanggal 1 Maret 2010 naskah saya kirim via pos. Sore harinya kukirim email ke bangnas “Naskah dengan Judul Menjadi Peternak Kelinci Teladan tadi siang saya kirim via pos. Kalau sampai Jakarta terlambat mohon jangan dianggap terlambat karena sesuai pengumuman batas akhir 1 Maret 2010 (stempel pos)”. Email tak pernah berbalas. Ya, saya memang saya tidak butuh balasan. Yang kubutuhkan tanggapan. Terimakasih bangnas!
           Akhir Mei yang menggembirakan diawali pada suatu pagi ketika penjaga sekolahku setengah tergesa-gesa berjalan menghampiriku sambil membungkuk mengatakan “nuwun sewu pak puniko onten serat kagem bapak”. Amplop besar dengan kop Pusat Perbukuan langsung kusobek bagian tepinya. Tak sempat baca isi bagian atas, pandanganku langsung tertuju pada kalimat dengan cetakan tebal “Naskah buku pengayaan yang saudara kirimkan dengan judul Menjadi Peternak Kelinci Teladan dinyatakan sebagai calon pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010, untuk itu kami ucapkan selamat” Alhamdulillah terimakasih ya Allah! Engkau telah mengabulkan doaku.
           Berulang kali surat itu kubaca. Apakah ini kebetulan? Ah, pasti tidak! Dewan juri berasal dari dari kalangan professional dan praktisi yang juga penulis tingkat nasional. Saingan juga sangat ketat dilihat dari jumlah maupun kualifikasi pengirim naskah. Calon pemenang yang dipanggil hanya 47 orang dari 1.136 pengirim naskah yang berasal dari 31 provinsi. Sesuai pengumuman pengirim naskah adalah guru, penerbit, tenaga kependidikan, konselor, peneliti, dosen, dan widyaiswara baik yang masih aktif maupun purnakarya dan bisa perorangan maupum kelompok.
           Itulah sekilas cerita saya sebelum menuju hotel Oasis Amir. Ada beberapa hal yang menjadi catatan untuk menjadi pemenang sayembara ini. Keberhasilan ini diraih dengan kerja keras dan doa. Ide menulis tidak muncul begitu saja, tanpa perkenanNya hal ini tidak mungkin terjadi. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah keaslian karya. Seleksi wawancara ternyata menentukan dan bisa mematikan. Tiga orang calon pemenang gugur dalam seleksi wawancara sehingga pemenang akhir hanya 44 orang. Dilain kesempatan semoga saya bisa menuliskan pengalaman selama di Jakarta. Rekan-rekan sesama pemula, mari kita berjuang semoga dapat berjumpa di acara Pengumuman dan Pemberian Hadiah Pemenang Sayembara tahun 2011! Amin!

Minggu, 25 April 2010

Dorothy Law Nolte

          Anak adalah buah hati yang kita harapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam dirinya tersimpan sejuta potensi yang siap dikembangkan.Orang tua dan pendidik pada umumnya berusaha mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Apakah tindakan pendidikan yang kita lakukan sudah tepat? Berikut adalah sebuah puisi karya Dorothy. Semoga dapat dijadikan bahan refleksi!

Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kamis, 31 Desember 2009

Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010

Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010

        Mengikuti lomba tingkat nasional bagi guru merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Selain mendapat hadiah yang cukup menggiurkan, kita akan mendapatkan banyak pengalaman. Pengalaman saya sebagai finalis LKG tingkat nasional tahun 2009, dapat mengenal dan sharing pengetahuan dengan finalis dari daerah lain di nusantara yang ternyata mayoritas mereka adalah para guru yang memiliki banyak prestasi. Pengalaman yang kita dapatkan tentu akan memperluas wawasan sehingga meningkatkan kompetensi kita sebagai pendidik. Pada muaranya anak didik kitalah yang mendapat keuntungan. Marilah kita dukung lomba guru tingkat nasional! Berikut ini adalah informasi lomba/sayembara : Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 201.
        Jakarta, Sabtu (21 November 2009) Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Pusbuk Depdiknas) menggelar sayembara penulisan naskah buku pengayaan 2010. Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan motivasi menulis di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Sayembara yang terbuka bagi para pendidik dan tenaga kependidikan baik formal maupun nonformal ini berhadiah
total Rp. 1.080.000. 000,00.
        Tema penulisan adalah Membangun Manusia Indonesia yang Religius, Cerdas, Bermartabat, Mandiri, dan Kompetitif di Era Global. Naskah yang disayembarakan adalah buku pengayaan yang memuat materi yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keterampilan, serta membentuk kepribadian peserta didik. Peruntukan pembaca adalah untuk jenjang pendidikan SD/MI (kelas 4,5, dan 6), SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK.
        Kepala Bidang Pengembangan Naskah dan Pengendalian Mutu Buku Pusbuk Depdiknas, Wahyu Trihartati, mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya Pusbuk Depdiknas untuk membantu meningkatkan baik mutu maupun jumlah penulis dan naskah buku pengayaan. Sayembara ini khusus untuk pendidik karena Pusbuk berkeyakinan kalau guru-guru yang menulis karena dia yang mengetahui kebutuhan siswa, dia yang bergaul dengan siswa sehari-hari, dia yang bisa menulis,katanya pada kegiatan Sosialisasi Standar/Instrumen Penilaian Buku Teks Pelajaran di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Sabtu (21/11/2009) .
        Wahyu mengatakan, hasil naskah para pemenang akan ditawarkan kepada para penerbit. Hak cipta ada di penulis, Pusbuk hanya membantu memfasilitasi dengan menawarkan kepada para penerbit yang berminat. Kita minta untuk menetapkan royalti dan terus kita pantau penerbitannya, katanya.
        Jenis naskah yang disayembarakan masing- masing enam naskah untuk tiap jenjang pendidikan. Untuk SD/MI (kelas 4,5, dan 6) meliputi, pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan) , cerita anak, kumpulan pantun, dan kumpulan puisi; untuk SMP/MTs meliputi pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan) , novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi; dan untuk SMA/MA/SMK/MAK meliputi pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan) , novel, drama, dan biografi.
        Persyaratan sayembara antara lain meliputi naskah yang diajukan adalah karya asli, tidak berseri, belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara manapun, tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, dan belum pernah diterbitkan. Naskah diketik komputer diatas kertas A4 minimal 60 halaman, 2 spasi, ukuran font 12. Jika menggunakan gambar, ukurannya harus proporsional dan mendukung materi.
        Naskah dikirimkan paling lambat pada 1 Maret 2010 (stempel pos) kepada Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010 Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jalan Gunung Sahari Raya No.4 Jakarta 10002. Hadiah per jenis naskah untuk 54 naskah bagi pemenang I Rp 21.000.000,00, pemenang II Rp 20.000.000, dan pemenang III Rp 19.000.000,00. Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi Pusat Perbukuan Depdiknas telepon (021) 3804248, pes 275, fax (021) 3458151, 3806229, email pusbuk@sibi.or.id atau bangnas_pusbuk@yahoo.com , atau melalui laman www.sibi.or.id.

Sumber: Pers Depdiknas